Home » Fanfiction » [FF Three Shoot] “Its Hard To Our Married” Part 2

[FF Three Shoot] “Its Hard To Our Married” Part 2

It s Hard To Our Married 500

Title: It’s Hard To Our Married

Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae)

Genre : Sad Married Life (Maybe)

Rating : T & G

Cast       :Shin Eunri a.k.a Eunri

                Lee Donghae a.k.a Donghae

                Jung Soo Yeon a.k.a Soo Yeon

                Super Junior’sMembers

               And Other Cast…

Length : TWOSHOOT

Annyeonghaseyo. Saya balik lagi dengan membawa part 2 ini. Part 3 nanti isinya hanya EPILOG aja. Jadi alurnya pada part 3 nanti flashback. Nah, daripada nih orang banyak ngomong, mendingan langsung aja. Cekodooouuut !!!

NB : Harap berhati-hati karna typo masih bertebaran dimana-mana.

 

 

HAPPY READING !

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

Previous Part .

 

Hae-Ri’s Apartement, 09.37 KST.

Eunri melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sayup-sayup suara yang didengarkan Eunri membuatknya melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.

Eunri melihat … DEG

 

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

Day by day I keep doing the same pattern.

You’re tired of that side of me, right? Would you forgive me?

Think it over one more time.

Would you think it over? Now I won’t let you go.

 

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

 

Hae-Ri’s Apartement, 09.37 KST.

 

Lagi-lagi hati Eunri sesak melihat pemandangan didepannya. Sebenarnya ini bukanlah pertama kali Eunri melihat Donghae dan Soo Yeon berciuman panas di depan matanya. Soo Yeon yang selalu menganggap Eunri tak penting dan seolah tak peduli dengan kehadiran Eunri membuatnya leluasa memiliki Donghae. Dan Donghaepun tak bisa mengendalikan dirinya jika Soo Yeon sudah berbuat seperti ini.

Eunri yang tadinya kelaparan setengah mati, sekarang dia benar-benar seorang yang mati. Tak dapat merasakan lapar, dan tak tahu caranya bernafas. Eunri melangkahkan kakinya gontai menuju kamar. Dilihatnya foto pernikahannya dengan Donghae yang terlihat aneh. Eunri lantas mengambil tas dan kunci mobilnya di atas meja rias. Dia memandangi wajahnya sekilas, ‘Apakah dia lebih sempurna dari pada-ku?’

Eunri melangkahkan kakinya cepat menuju tempat parkir. Namun saat Eunri membuka pintu, dari belakang ada seorang yang seolah mengintimidasinya.

“Oh, Eunri-ya. Pagi-pagi seperti ini kau mau pergi ke mana? Kau lupa bahwa sekarang kau itu ISTRI Donghae. Kau mau melepaskan tanggung jawabmu begitu saja? Ck, aku tahu sekarang alasan Donghae oppa tak betah tinggal dengan mu. Kau … “ Belum sempat Soo Yeon menyelesaikan kalimatnya, Eunri lebih dulu menutup pintu apartemennya. Tidak sopan memang. Tapi dia sudah muak dengan ocehan yang selalu dikeluarkan Soo Yeon.

Eunri terduduk lemas di depan pintu apartemennya. Dilihanya langit-langit lorong apartemen dengan membendung air matanya. Ini semua sangat melelahkan.

Eunri mulai beranjak dari duduknya. Kapel. Hanya tempat itu yang sangat setia mendengarkan keluh kesahnya. Hanya tempat itu yang bisa membuat fikirannya sejenak menjadi lebih fresh.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

 

At Kapel, 10.07 KST.

 

Eunri belum beranjak dari mobilnya. Dipandanginya Kapel bergaya Eropa dan terlihat sangat tua, namun terlihat menarik dengan taman-taman luas nan indah disekitarnya. Bunga warna-warni yang bermekaran di sepanjang jalan menuju kapel. Juga pepohonan rindang dekat danau. Membuat kapel ini terlihat seperti taman bunga yang sangat luas. Membuat siapa saja yang hanya melihatnya saja merasa damai.

Drrrtt … Drrrtt …

Eunri menengok pada Handphone Touch Screennya. ‘Eommonim’.

 

“Yeobseyo.”

“ … ”

“Nan Gwenchana, Eomonim. Wae-yo?”

“ … “

“Ehm, ara. Aku akan kesana sekarang.”

“ … “

“Ne.” Eunri menghela nafas beratnya. ‘Mungkin bertemu eommonim juga bisa meringankan bebanku. Keunde, setidaknya aku ingin menghirup udara luar dulu.’ Batin Eunri.

Eunri keluar dari mobilnya, dan melangkahkan kakinya menuju danau dan duduk disalah satu bangku. Eunri menghidup udara sejuk sekuat-kuatnya dan mengeluarkannya. ‘Rasanya segar sekali’.Eunri lantas kembali menuju mobilnya, dan bersiap menemui eommonim.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Lee’s House, 10.32 KST.

Eunri mengetuk pintu rumah keluarga besar Lee ini. Terlihatlah sosok paruhbaya yang membukakan pintu tersenyum padanya.

Annyeonghaseyo, Eommonim.” Eunri mengelurkan senyum termanisnya pada ibu mertuanya tersebut.

“Oh, Eunri-ya. Kkaja. Masuklah.” Ibu Donghae menuntun menantu kesayangannya tersebut menuju ruang tengah.

Eunri mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah, lantas bertanya saat dilihatnya rumah terasa sepi. “Donghwa oppa dan Taerin eonni tak ada di rumahkah, eommonim?”

“Mereka sedang pergi ke taman bermain, inikan akhir pekan. Hwarin merengek kepada appa-nya yang super sibuk itu untuk mengajaknya berjalan-jalan keluar. Biarlah mereka mencari udara segar bersama. Donghwa disibukan dengan urusan kantor, dan menyebabkan waktunya tersita banyak hanya dengan berkas-berkas itu.” Nyonya Lee yang duduk dihadapan Eunri menatapnya dengan tatapan yang sama dengan Donghae punya. Selalu bisa meluluhkan hatinya.

“Donghae tidak ikutkah?” lanjut nyonya Lee.

Anio, eommonim. Dia sedang sibuk.” Eunri tak punya alasan lagi. Tak mungkin dia menjawab secara gamblang bahwa suaminya sedang berduaan dengan seorang yeoja di apartemen mereka.

Nyonya Lee menghela nafas panjang dan seperti membayangkan sesuatu. “Andai saja Donghae dan Donghwa appa masih hidup, dia pasti sangat kelelahan menghadapi perusahaan kami yang terlampau berkembang pesat ini. Ini sudah hampir tahun ketiga aku ditinggal olehnya. Tapi aku merasa sangat lama. Aku merindukannya, Eunri-ya. Aku ingin bertemu dengannya.”

Eommonim dan aboji adalah seorang yang ditakdirkan selalu bersama. Apapun yang terjadi kalian akan terus bersama. Walaupun aboji raganya sudah tiada,. Tapi, nyawa dan hatinya masih bersamamu, eommonim. Aku yakin itu.”  Eunri tersenyum lembut saat ibu mertuanya itu menatapnya.

“Aku harap, kau dan Donghae juga selamanya akan bersama.” Eunri hanya tersenyum miris saat mendengarkan penuturan Donghae Eomma yang terlampau lembut ini.

“Aku berharap begitu, eommonim.” Eunri hanya bisa menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap wajah malaikat eommonim-nya tersebut.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Hae-Ri’s Apartement, 07.00 KST.

 

Hari ini Eunri tidak lagi kesiangan dan tidak mendapat omelan Soo Yeon. Entahlah, orang hidup itu belum menampakkan batang hidungnya sampai sekarang. Eunri dan Donghae sarapan dalam diam. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.

Donghae menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum dia memulai berbicara dengan Eunri. “Kau, kau pergi ke rumah eomma kemarin?”

“Ehm.” Eunri menjawab dengan deheman, dan menatap sekilas Donghae kemudian kembali melanjutkan makannya.

“Kenapa kau tidak mengajakku? Aku sangat merindukannya.” Donghae menatap Eunri yang sedang mengacuhkannya tersebut dengan tatapan sendunya.

“Bukankah kau sedang sibuk, eoh? Aku kira kau tak punya rasa rindu sama sekali kepada eomma-mu.” Eunri menatap Donghae sinis. Entahlah, waktu yang membuatnya seperti ini. Ini bukan seperti Eunri yang lembut dan polos.

Donghae hanya menghela nafasnya, kemudian melanjutkan makannya. Dia tahu arah pembicaraan Eunri.

Eunri membanting keras sendok makan ke meja. “Oppa. Bisakah kita bicara serius sekarang?”

Donghae menatap Eunri yang sedang menatapnya tajam tersebut. “Arasseo.

“Bisakah kau melepaskan Soo Yeon?”

Mwo?” Donghae terlihat kaget dengan permintaan Eunri yang satu ini.

“Apa aku harus mengulanginya sekali lagi?” Eunri menatap Donghae sinis. “Kau tak pernah merasa bersalah sama sekali pada Heechul oppa, eoh? Cck, kau tak punya hati sama sekali. ”

“ … “ Donghae hanya bisa menunduk. Memang benar apa yang dikatakan Eunri. Dia Tak Punya Hati.

“Mau kau bawa kemana kisah cinta terlarangmu itu? Kau benar akan tetap mempertahankannya?” Tatapan mata Eunri yang tajam bisa menghunus siapa saja yang balik menatapnya.

Nan Molla-yo.” Donghae bahkan tak berani untuk sekilas menatap wajah Eunri.

Eunri mulai beranjak dari duduknya, dan mengambil tas kantor yang berada disampingnya. “Aku harap kau bisa melepaskan Soo Yeon untuk Heechul oppa agar tidak mengecewakan semuanya. Sebentar lagi Heechul pulang dari Wamilnya. Aku harap kau melepaskan Soo Yeon sebelum hubunganmu dengannya ketahuan oleh Heechul oppa.” Eunri lantas melangkahkan kakinya menuju parkiran.

Donghae menatap kepergian Eunri. Seolah-olah ia memang orang yang paling bodoh yang tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Perkataan Eunri menembus hatinya yang membeku.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Lee Shin’s Corporation, 13.09 KST.

Eunri mulai menfokuskan kembali fikirannya pada berkas-berkas yang harus dipelajarinya dengan seksama. Eunri bisa merasa kenyang sesaat setelah makan siang dengan jajangmyeon kesukaannya. Dan dia juga lega bisa mengungkapkan semuanya pada Donghae tadi pagi.

Drrtt … Drrtt …

Eunri menatap ponsel yang berada disampingnya dengan dahi berkerut. Tertera nama ‘Appa’ dilayar touch screennya. Jarang-jarang appanya tersebut menelponnya pada jam-jam yang seperti ini.

“Yeobseyo, Appa.”

“ … “

“Ne. Wea-yo Appa?”

“ … “

MWO? K … Keunde kemarin aku dan … “ Ponsel Eunri terjatuh begitu saja saat mendengarkan berita dari appanya tersebut. Dia benar-benar tak sepenuhnya percaya dengan apa yang didengarnya.

Eunri bergegas mengambil mobilnya di parkiran. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Lee’s House,  13.17 KST.

Eunri benar-benar gila mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia hanya ingin memastikan apa yang dikatakan appa-nya bukanlah suatu kenyataan. Eunri melihat rangakaian-rangkaian bunga ucapkan belasungkawa. Eunri menggelang-gelengkan kepalanya, tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Eommonim.” Eunri melihat ibu mertuanya yang cantik dengan balutan gaun pengantin model lama namun terlihat pas dan cocok dengan tubuhnya.

Eunri appa menghampiri anak semata bungsunya tersebut. Menepuk bahunya pelan. Berusaha untuk menenangkannya.

Appa. Eommonim wae-yo? Kenapa dia dimasukkan dalam peti eoh? Andwe. Andwe. Hiks hiks hiks.” Eunri menagis dipelukan appa-nya. Tak percaya dengan apa yang terjadi pada seseorang yang telah dianggapnya ibunya sendiri itu.

“Ikhlaskan dia ya, nak.” Eunri eomma yang berada dibelakangnya mengusap punggungnya lembut. Dia juga merasa kehilangan sosok sahabat terbaiknya tersebut.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Burial Place, 14.49 KST.

Donghae dan Eunri menatap tak percaya pada gundukan yang berada di depannya tersebut. Donghae shock saat mendengar kabar bahwa eomma-nya telah meninggal. Hampi saja dia pingsan di tempat latihan tadi. Untung saja ada member Super Junior yang menguatkan Donghae. Mereka turut sedih dan juga berbela-sungkawa.

Eomma. Andwe.” Donghae sedari tadi bergumam di depan pusara eommanya tersebut.

“Eomma. Kkajima.”

“Eomma. Bogosipo.”

“Eomma. Neomu neomu neomu bogosipo.” Donghae yang terus menggumamkan eomma-nya tersebut membuat Eunri yang di sampingnya menatap Donghae dengan mata sembabnya. Entah keberanian dari mana, Eunri memeluk tubuh rapuh Donghae.

Donghae menemukan sandarannya, dan dia lebih nyaman untuk menumpahkan semuanya. Dia tidak bisa menghentikan tangisnya. Ditinggal oleh dua orang paling disayanginya bukanlah hal yang mudah untuk melanjutkan hidupnya. Ia tak tahu bisa apalagi setelah ditinggal eomma-nya.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Lee’s House. 16. 27 KST.

Donghae dan Eunri terlihat berjalan beriringan dari areal pemakaman. Sebenarnya areal pemakaman agak jauh dari sini. Namun, Donghae dan Eunri memilih untuk berjalan kaki. Berjalan beberapa kilometer tidak membuat Donghae merasa lelah atau semacamnya. Tubuhnya terasa mati, tak dapat merasakan apapun.

Dari gerbang rumah keluarga Lee, munculah mobil Ferrari merah dengan perlahan menghampiri tempat Donghae dan Eunri berdiri. Mereka – Donghae Eunri – yang masih berada di pelataran rumah didatangi oleh gadis berambut sebahu berbaju hitam. Ya. Siapa lagi kalau bukan Soo Yeon.

Soo Yeon lantas keluar dari mobilnya dan menghampiri Donghae dengan muka sok sedihnya.

‘Cih. Menjijikkan’ batin Eunri.

Oppa, mian aku terlambat ne.” Donghae hanya bisa menunduk saat Soo Yeon  menatapnya. Hatinya dalam keadaan buruk sekarang. Bukan saat yang tepat untuk bertemu Soo Yeon.

Oppa. Uljima-yo.” Soo Yeon mengusap lembut air mata Donghae. Membuat Eunri yang di sampingnya merasa muak.

Oppa. Kkaja.” Soo Yeon menuntun. Ani, lebih tepatnya menyeret tubuh lemah Donghae untuk mengikutinya. Entah kemana.

Namun, sebelum terlampau jauh, Eunri menahan donghae dengan menggenggam erat tangan Donghae.

Soo Yeon yang merasa janggalpun menoleh ke belakang. “Yak!! Neo Wae-yo?

“Kau akan mengajaknya kemana, ha?!!” Eunri berteriak tepat diwajah Soo Yeon. “Apa kau akan mengajaknya ke pub, atau ke bar, atau ke tempat karaoke untuk bersenang-senang? Apa kau tidak bisa melihat situasinya?!!” Eunri tak bisa lagi menahan untuk tidak berteriak di depan wajah Soo Yeon, amarahnya meledak sekarang.

“ … “ Soo Yeon membalas tatapan Eunri dengan tatapan tajam miliknya.

“Oh. Kereom. Kau, Jung Soo Yeon adalah seorang tuan putri terhormat yang tidak pernah merasa kehilangan seseorang yang berpengaruh besar pada kehidupannya.”  Eunri mulai meneteskan air matanya saat mengingat oppanya telah tiada. “Dan kau selalu bisa mendapatkan apa yang kau mau. Bahkan dengan cara yang menjijikkan sekalipun.” Eunri menghirup udara dalam-dalam setelah puas meneriaki Soo Yeon. “Jadi, biarkan dia tinggal di rumah eommonim untuk melepas rindunya.” Eunri mulai melemah.

Soo Yeonpun akhirnya menyerah dan melepaskan Donghae. Walaupun dengan wajah tak relanya.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Lee’s House, 08.13 KST.

Donghae dan Eunri menikmati sarapan yang dibuat oleh Taerin. Mereka berdua memang bermalam di rumah keluarga Lee. Eunri membiarkan Donghae semalaman tidur di kamar eomma-nya.

Meja makan yang terisi oleh lima orang –Donghae, Donghwa, Eunri, Taerin, dan si kecil Hwarin- terasa sepi. Suasana sedih masih terasa kental di rumah ini. Si kecil Hwarin yang tak tahu apa-apa pun hanya menatap aneh keempat orang yang sedang saling berdiam diri. Biasanya rumah akan terasa lebih ramai jika samchon dan imonya tersebut berkunjung. Namun, sekarang rumah terasa seperti rumah kosong tak berpenghuni, benar-benar sepi.

Kemarin Donghae  menanyakan pada ketua maid di sini perihal bagaimana eomma-nya tersebut bisa meninggal. Namun, jawaban maid : ’Mianhe-yo tuan. Saya tidak tahu. Saat saya ingin membangunkan nyonya yang sedang tertidur untuk makan siang, nyonya tak kunjung bangun. Lalu saya lebih mendekat agar nyonya bisa mendengar lebih keras suara saya. Namun, pada saat itu saya tidak mendengat deru nafas nyonya Lee. Kemudian saya memanggil dokter untuk datang. Dan, dokter itu bilang, nyonya telah tiada.’

Donghae eomma memang meninggal dalam keadaan tertidur. Namun bukan berarti tak ada yang terjadi. Dokter bilang pembuluh darahnya pecah karena serangan jantung yang tiba-tiba menghampirinya. Donghae setidaknya lega melihat eomma-nya pergi dengan keadaan damai.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

 

At Hae-Ri’s Apartement, 19.03 KST.

Donghae tidak ingin berdih lama-lama, sehingga dia memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka. Donghae membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah dan dengan secangkir teh hangat yang telah Eunri siapkan. Donghae menyuruh Eunri tidur di kamar karena Donghae tahu, dia maupun Eunri sedang lelah sekarang.

Suara bel membuat Donghae yang sedang berbaring tersebut bangun dan beranjak untuk membukakan pintu.

Dilihatnya yeoja berambut sebahu itu lagi datang ke apartemennya dengan wajah ceria. Soo Yeon menyelonong masuk ke dalam apartemen Hae-Ri dan duduk pada sofa ruang tengah.

Oppa. Bogosipo.” Soo Yeon lantas memeluk Donghae yang duduk di sebelahnya.

“Ehm.” Donghae hanya membalas dengan deheman tanpa membalas pelukan Soo Yeon sedikitpun.

Oppa.” Soo Yeon menangkupkan pipi Donghae dengan tangannya. Dan mengarahkan wajah Donghae menghadapnya.

Wae?” Donghae menatap Soo Yeon dengan tatapan datarnya. Karna memang hatinya belum sempurna pulih.

“Ayo kita menikah!” Donghae tercengang mendengar penuturan Soo Yeon. “Eommonim selalu menghalangi kita untuk menjalani hubungan lebih jauh. Ini kesempatan kita untuk melakukannya. Kau juga bisa bebas dari pernikahan konyol ini dengan menceraikan Eunri.”

Eunri yang sebenarnya berada di belakang mereka hanya menatap Soo Yeon tak percaya. Bagaimana bisa dia selicik ini. Dan Eunri tak bisa menahan sesak saat melihat Donghae yang hanya diam seperti orang bodoh. Eunri lantas kembali ke kamar. Hausnya sudah hilang setelah mendengat penuturan Soo Yeon.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

Your well-prepared goodbye to me now, it feels like dying

It’s hurts, even if time passes by

Yet to let you go, to let you go,

There are still so many things to do yeah

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At Hae-Ri’s Apartement, 10.09 KST.

Eunri tidak masuk kantor hari ini, karena hatinya masih terasa sedih akan kepergian mertuanya dan juga mungkin karena suaminya yang akan meninggalkannya. Hati Eunri masih hancur tak berbentuk. Tadi sahabatnya Jaena menelponnya. Dia sanggup membantu Eunri menyelesaikan tugas kantornya. Jaena tahu kadaan Eunri yang tak baik sekarang.

Eunri memandang kaca besar apartemennya dengan tatapan kosong. Diluar sana langit gelap seolah menggambarkan hatinya. Sejak pagi tadi hanya awan hitam yang terlihat. Hujan juga belum menampakkan batang hidungnya. Mungkin keadaan ini akan berlangsung lama.

Donghae yang sejak pagi tadi pergi entah kemana dengan ‘Wanita Menjijikkan’ – kata Eunri – itu. Eunri saat ini ingin berdoa di Kapel. Namun dia masih tak kuat hanya untuk berjalan.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

Stay At Hae-Ri’s Apartement, 19.43 KST.

Eunri dan Donghae menikmati makan malam mereka. Lagi-lagi dengan diam. Eunri yang sesekali menatap Donghae, seolah ia ingin menyampaikan sesuatu namun ia gugup.

“Ehm. Donghae oppa.” Eunri sedang gugup sekarang. Entah ia bisa melakukannya atau tidak.

Donghae menatap Eunri yang terllihat sedang gelisah. “Wae?

“I .. itu. Anu.”

Donghae bingung dengan apa yang akan Eunri ucapkan. “Wae?” sekali lagi Donghae beretanya dengan pertanyaan yang sama.

Eunri menyodorkan amplop coklat kepada Donghae. “Aku kira kita sudah tak cocok lagi, oppa. Bukankah tak ada gunanya meneruskan semuanya. Aku menyerah. Kekuatanku habis terkuras oleh rasa sakitku. Gumawo telah menemaniku selama ini.” Eunri membukkukan badannya pada Donghae lantas menuju kamarnya untuk mengambil koper yang telah ia siapkan tadi.

Annyeong.” Sekali lagi Eunri mengucapakan salam perpisahan.

Butiran itu jatuh dari sudut mata sipit Donghae. Rasanya sakit memang kehilangan seseorang. ‘Jangan pernah melepaskan Eunri, Donghae-ya. Dia perempuan yang terlampau baik. Eomma tahu bagaimana seluk-beluk rumah tanggamu. Tapi bagaimana bisa dia setegar ini. Hanya dia yang mampu menghadapimu.’ Ucapan Eomma-nya beberapa minggu lalu masih terngiang di otak Donghae.

Tak ingin berbuat kesalahan lagi, Donghae buru-buru mengambil kunci mobilnya yang dia gantungkan di dekat TV lantas menyusul Eunri yang ia yakini belum jauh dari sini.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

At The Way

Jalanan yang terselimuti hujan deras membuat pedestrian dan beberapa pengendara susah untuk melihat pemandangan. Mata mereka seolah kabur dan buta akan jalanan. Namun itu tidak menyulutkan Eunri untuk berhenti berjalan. Dia sedang tidak ingin untuk menaiki taxi. Lagi pula pakaiannya tak akan basah dengan koper anti airnya. Biarlah air hujan membawa jauh kesedihannya. Mungkin berada jauh dari Donghae memang jalannya.

Disisi lain. Donghae menolehkan pandangannya ke kanan dan kiri jalan. Berharap bertemu dengan sosok yang tiba-tiba meniggalkannya. Donghae mengendarai mobilnya lambat. Jalanan yang tak terlihat mata karena derasnya hujanlah mau tak mau Donghae harus melambatkan jalannya.

Donghae yang sedari tadi tidak menemukan sosok gadisnya itu mulai frustasi. Donghae agak mempercepat kecepatannya. Mungkin keberuntungan masih berpihan padanya. Sambil menengok kanan kiri.

Bbraaaaakkkk …

Dongahae melihat kucuran darah mengalir dari kaca depan mobilnya. Dia lantas turun tanpa menggunakn payung dan melihat apa yang ditabraknya.

Astaga. Donghae menabrak seseorang. Donghae menghampiri korbannya. Seseorang berambut panjang dengan dress merahnya. Ani, itu bukan warna asli dressnya. Darah yang terus mengucur dari tubuhnya membuat Donghae merinding dibuatnya. Donghae berusaha mengangkat sosok tersebut untuk membawanya ke rumah sakit, dan …

MWO!!! Ige. ANDWE. ANDWE, EUNRI-YA.” Donghae menangis tersedu-sedu melihat tubuh Eunri yang jelas-jelas ditabraknya. Dia benar-benar manusia hina. Dipangkunya tubuh Eunri dan diusapnya darah yang berada di wajah Eunri.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

I’m a fool for always making you cry

I’m lacking because I let you go

Please forgive me who’s erased you once

Please, so that I can breathe again?

Looking at you, my tears flow.

You make me feel like a fool

If by any chance you changed your mind,

I’ll be standing here on your way back baby

 

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

 

At Conference Press Place, 11.33 KST.

 

Kilauan cahaya kamera manyilaukan mata. Meja dan kursi berjejer rapi dengan hiasanya. Sepesang yeoja dan namja memasuki ruangan dengan senyumannya. Tanganya saling bertautan kuat dan tampak serasi dengan balutan baju couple-nya.

Annyeonghaseyo.” Donghae dan Eunri membungkukkan tubuhnya pada para wartawan. Lantas mendudukkan tubuhnya dikursi yang disediakan.

“Tuan Lee Donghae. Apakah benar perihal rencana pernikahanmu dengan seorang yeoja bernama Jung Soo Yeon?” Tanya salah seorang wartawan.

“Apakah dia orangnya?” wartawan lainpun menimpali.

Sebelum menjawab pertanyaan para wartawan, donghae memunculkan senyum manisnya. “Perihal aku dan Soo Yeon akan menikah, itu hanya berita bodoh. Dan anggaplah angin yang berlalu. Dan wanita disebelahku dia … Nae Anae.

Kilauan cahaya kamera saling memperebutkan wajah cantik Eunri.

Annyenghaseyo. Jeonen Lee Eunri imida.” Eunri membungkukkan tubuhnya kepada para wartawan.

“Bisakah anda jelaskan siapa Soo Yeon sebenarnya?” salah seorang wartawan yang masih penasaran tentang siapa Soo Yeon.

“Dia … dia mantan kekasihku.” Donghae tersenyum tipis menghadap para wartawan. “Aku sudah menyesal menyia-nyiakan seseorang yang selalu setia menungguku dan menemaniku. Changi-ah Saranghae.” Donghae menatap Eunri damalm dengan senyuman yang mengembang. Wartawan semakin berebut mendapatkan pernyataan cinta Donghae kepada istri tercintanya tersebut. “Mian aku tidak bisa mengundang kalian dalam pernikahanku satu tahun lalu.”

“Bagaimana dengan kehadiran momongan?” Celetuk salah satu wartawan.

“Kau tahu. Sebernya aku sudah menantinya sejak lama. Namun, saat ini aku hanya ingin berdua saja dengannya.” Donghae lagi-lagi mengembangkan senyumannya dan menatap istri tercintanya dalam.

Wartawan hanya senyum-senyum tak jelas melihat kelakuan dua sejoli ini.

Gamsa hamnida telah hadir pada Conference Press ini. Sekali lagi aku dan istriku benar-benar berterima kasih.” Sekali lagi Donghae dan Eunri membungkukkan badanya dihadapan para wartawan.

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

Whenever I meet eyes with her
I wonder
and the smile that grows on my face
Might reach a corner of your heart
I whisper into the beautiful ear
Inside of your uncertain heart
My feelings of love for you

 

 I’ll be taking you
Girl, I know without you I miss you
I’ll long for you forever
My feelings of desire and hope
My love that grows deep again
I can no longer hide them
You are m
y girl

 

My heart will catch you and not let you go
Can you feel it as well?
Before, oh, it’s too late
Before I grow older, can you hold onto me?

 

 I know that your heart
Cannot come by my side yet
Can I just call you my one?

 

] I love you only, as much as the sky
You truly are the reason I live
] Let’s all together one, two, three, let’s begin
You are my one, my everything
I really, really, I want to love you like crazy
I can do that now, right
?

(SHINEE – ONE)

♥♥♥_____♥♥♥_____♥♥♥

Together with Bada n’ Choco

Thanks a lot for reading. Jangan lupa RCL-nya ya. Mianhae kalau masih ada typo yang bertebaran. *Bow With Donghae.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s